KTM : Ekspress Rakyat Timuran

Ekspress Rakyat Timuran di Stasiun JB Sentral
Pernahkah anda membayangkan bagaimana rasanya naik kereta api selama 17 Jam perjalanan tanpa ada colokan listrik? Mungkin tulisan saya kali ini mampu memberikan gambaran bagaimana rasanya melakukan perjalanan diatas kereta api selama 17 jam lebih perjalanan tanpa adanya saluran listrik personal yang tersedia di tempat duduk.
Kereta api yang saya maksud adalah Kereta Tanah Malaysia : Ekspres Rakyat Timuran. Kereta Api yang dimiliki oleh penyedia jasa layanan angkutan kereta api di Malaysia ini melayani rute perjalanan dari Johor Bahru (JB Sentral) – Tumpat. Jarak yang ditempuh selama perjalanan kereta ERT ini sejauh 712 Km dengan ditarik lokomotif Class 25 (EMD GT18LC-2). Memiliki transformasi 6 Kereta Sleeper, 4 Kereta Eksekutif, 1 Cafetaria, dan 1 Kereta Pembangkit.

Pada perjalanan kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba kelas Sleeper yang tersedia dalam perjalanan kereta ini. Dengan rancangan kereta sleeper yang mempunyai 2 bed tidur diatas dan dibawah (tingkat) dilengkapi dengan tirai penutup tiap bed nya. Bed dalam kereta ini sebenarnya adalah rakitan dari bentuk awal kereta ini dibuat, yaitu terdapat bekas sandaran kursi di ujung bed dilengkapi dengan 2 kursi yang digabung menjadi 1 sehingga membentuk dasaran tempat meletakkan bed.

Berbeda dengan tingkat yang atas, bed yang diatas dasarannya menggunakan papan solid yang paten semacam bentuk bagasi kabin atas di pesawat maupun kereta api di Indonesia. Setiap bed dilengkapi dengan fasilitas bantal, dan selimut. Namun, sayangnya dalam perjalanan ini belum tersedia colokan listrik. Untuk anda yang berencana untuk mencoba perjalanan ini, saya sarankan untuk membawa baterai cadangan baik untuk ponsel anda atau kamera.

Bed bagian bawah 
Bed bagian atas
Secara spesifik, kereta sleeper ini dijual di website KTM dengan kelas Superior Night Class dengan harga RM 62 atau sekitar Rp.186.000, Jika anda ingin membeli tiket kereta sleeper ini bisa melalui laman penjualan tiket online KTM dengan kelas Superior Night Class.
Saya memilih bed yang bawah, karena jika kita memilih bed yang bawah akan mendapatkan jendela lebih lebar daripada bed yang diatas yang mempunyai ukuran jendela yang lebih kecil. Karena saya bertujuan untuk menikmati pemandangan selama perjalanan, maka saya rasa bed yang bawah adalah singgasana yang tepat untuk saya.

Kereta Ekspres Rakyat Timuran diberangkatkan dari Stasiun JB Sentral pada pukul 19.15 MYT dengan tujuan akhir Stasiun Tumpat yang dijadwalkan akan tiba pada pukul 12.32 MYT. Sesuai jadwal kereta ERT ini berangkat tepat waktu, ketika awal kereta berangkat kita masih bisa menyaksikan suasana Johor Bahru dan sekitarnya karena pukul 19.15 MYT masih nampak matahari yang cukup terang, berbeda dengan di Indonesia bukan?
ERT ini dalam perjalanannya berhenti di 25 Stasiun, salah satu stasiun yang menarik perhatian saya yaitu Stasiun Gua Musang. Mengapa? Ikuti terus ceritanya.
Suasana kabin dalam kereta ini kedap suara, suara dari luar kereta hampir tidak terdengar. Tentunya dengan suasana ini menambah kenyamanan dalam beristirahat malam harinya.

Kereta ERT mulai memasuki Stasiun Kempas Baru. Penumpang mulai banyak naik dari stasiun ini begitupun dengan pengantar penumpang yang bebas bisa masuk ke dalam kereta. Kereta ERT masuk di Jalur 1 yang tak lama kemudian kereta kembali berangkat namun justru kereta ini berangkat menuju arah sebaliknya (Mundur). Saya bingung apakah ada insiden atau keadaan yang mengharuskan kereta kembali ke JB Sentral? Karena Stasiun Kempas Baru ini adalah stasiun perhentian pertama setelah berangkat dari JB Sentral.
Setelah kereta berjalan mundur kurang lebih sejauh 500m, kereta berhenti sekitar 5 menit kemudian kereta maju kembali kearah stasiun dan berhenti kembali di Jalur 2. Rupanya, kereta ini berpindah jalur dari Jalur 1 ke Jalur 2. Karena peron tinggi hanya tersedia di Jalur 1 untuk memudahkan akses naik turun penumpang, ketika ERT telah selesai naik turun penumpang, maka ERT dipindah ke Jalur 2 yang tidak mendapatkan peron tinggi. Karena dari arah sebaliknya ada kereta penumpang yang hendak berhenti di stasiun ini. Secara sederhananya, mereka bergantian menggunakan peron stasiun untuk akses naik turun penumpang.
Waktu berlalu, hari semakin gelap dan saya mulai menyiapkan tempat tidur saya. Karena kereta ini tidak terdapat bagasi, maka saya meletakkan barang bawaan saya diatas bed. Namun tak sedikit pula penumpang yang meletakkan barang bawaan mereka di gang tengah kereta api.

harap tenang, banyak penumpang tidur.
Mengingat kembali bahwa kereta ini mempunyai kereta Cafetaria membuat saya penasaran dan ingin mencoba menu masakan yang terseida disana meskipun sebenarnya saya belum terlalu lapar. Ketika memasuki kereta Cafetaria, saya menjumpai etalase jualan pada umumnya yang didalamnya tersedia makanan ringan, minuman dalam kemasan, dan beberapa roti tawar dan burger yang merupakan salah satu dari menu yang Cafetaria ini tawarkan.
Saya memutuskan untuk memesan Kopitam saja karena memang belum terasa lapar dan niatnya hanya untuk mencoba suasana kereta ini. Pelayan memastikan kembali pesanan saya dan mempersilahkan saya duduk di kursi yang tersedia untuk menunggu pesanan saya diantar.
Momentum menunggu ini yang sering saya gunakan untuk memikirkan dan mulai berimajinasi bagaimana gambaran Stasiun Tumpat yang merupakan ujung utara dari Negara Malaysa? Atau imajinasi yang lebih sederhana adalah bagaimana pembaca cerita saya mampu menangkap gambaran yang sama dengan saya lewat tulisan yang saya ceritakan ini?
Bersambung.




Posting pertama yang mantap!
SukaDisukai oleh 1 orang
Terimakasih banyak mas 😁 tunggu part berikutnya
SukaSuka
Akhirnyaaa,,,
ditunggu lanjutannya
perlu klik subscribe ni biar ga ketinggalan postingan
SukaSuka
Hahaha, terimakasih mbak nik 🙏🏻
SukaSuka
Penjelajahan dan tulisan yang keren bang. Membaca tulisan ini jd pingin jalan2 kesana naik kereta, menikmati fasilitas yg disediakan. Tulisan juga dilampiri gambar yg bikin pembaca gk bosen dan bisa liat gambaran lokasi
Terimakasii, ditunggu tulisan selanjutnya
SukaSuka