Naik Kereta Eksekutif dengan Harga Rp.3.500? Bisa!

Kereta Tanah Malaysia : Kereta Shuttle (Tumpat-Kuala Lipis)

Perjalanan yang saya coba bagikan kepada anda semua tergolong dalam salah satu perjalanan singkat saya dari beberapa perjalanan yang lain. Ya, Kali ini saya akan membagikan pengalaman perjalanan menggunakan kereta api lokal (Shuttle) dari Sasiun Tumpat menuju Stasiun Wakaf Bharu. Saya menuliskan perjalanan ini berkat dorongan dan masukan dari teman-teman pembaca yang menyarankan untuk menuliskan cerita perjalanan menggunakan kereta ini, maka dari itu tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman pembaca yang sudah memberi masukan dan komentar sebelumya. Saya ucapkan Terima Kasih.

Perjalanan ini terbilang cukup singkat karena hanya ditempuh dalam waktu 15 Menit saja dengan jarak sekitar 13 Km. Kereta Shuttle ini berangkat dari Stasiun Tumpat menuju Stasiun Wakaf Bharu dengan susunan rangkaian 5 Kereta dan 1 Lokomotif penarik. Kereta Shuttle ini bertujuan akhir di stasiun Kuala Lipis, namun pada perjalanan kali ini saya hanya naik hingga Stasiun Wakaf Bharu. Kebetulan pada kesempatan ini saya baru saja turun dari kereta Ekspress Timuran yang tiba di stasiun Tumpat pada pukul 12.20 MYT, untuk cerita perjalanan dengan kereta Ekspress Timuran dan beberapa catatan perjalanan saya yang lain bisa dibaca di tautan dibawah ini :

Untuk membeli tiket kereta Shuttle ini saya menuju loket yang letaknya persis di depan pintu masuk stasiun. Hanya tersedia 2 bilik loket, yang aktif melayani penjualan hanya 1 bilik. Sedikit gambaran mengenai Stasiun Tumpat ini adalah stasiun paling ujung utara dari Malaysia. Jika kita keluar dari bangunan stasiun ini, dapat terlihat suasana yang sepi menyerupai pesisir pantai, ditandai dengan adanya pasir pantai yang menutupi beberapa bagian jalan aspal. Beberapa jaring nelayan juga terlihat sedang di jemur di pinggir jalan. Lalu lintas yang sangat sepi jadi untuk menyebrang jalan anda tidak perlu kesulitan.

Bagian barat stasiun terdapat beberapa jalur simpan yang dibuat untuk tempat parkir rangkaian kereta penumpang untuk dicuci dan bersiap untuk melakukan perjalanan kembali pada sore harinya. Lalu di sebelahnya juga terdapat dipo lokomotif yang berisi lokomotif untuk langsiran dan lokomotif yang melayani kereta Ekspres Timuran. Berjalan sedikit ke arah selatan stasiun terdapat Turntable atau meja putar yang digunakan untuk memutar arah berjalan lokomotif menjadi arah sebaliknya.

Stasiun Tumpat pada saat itu sedang mengalami pembangunan berupa penambahan panjang peron tinggi disertai dengan kanopi.

Kembali ke catatan perjalanan, untuk mendapatkan tiket kereta Shuttle ini anda harus membeli di loket dengan harga 1 Ringgit saja, atau jika dalam mata uang Rupiah seharga Rp.3.500 saja. (Dengan tujuan Stasiun Wakaf Bharu). Dalam sehari, Stasiun Tumpat melayani 6 Kereta Shuttle dengan rincian 3 Jadwal berangkat dari Stasiun Tumpat menuju Stasiun Dabong dan Kuala Lipis dan 3 Jadwal Kedatangan di Stasiun Tumpat dari Stasiun Dabong dan Kuala Lipis. Saya memilih jam keberangkatan pada pukul 14.35 MYT

Ketika saya membeli tiket, ternyata petugas loket mengatakan kereta belum tersedia untuk saat ini. Maka dari itu saya memutuskan untuk mencari tempat istirahat di sekitar stasiun. Tepat di sebrang stasiun terdapat warung yang menyediakan berbagai makanan ringan dan minuman dalam kemasan, ada pula nasi bungkus dengan berbagai menu. Sangat cocok untuk membunuh waktu untuk menunggu 1 jam lebih.

Dalam perjalanan selama di Malaysia, saya pergi bersama rekan perjalanan saya yang sekaligus merupakan Vlogger di Youtube khususnya di bidang transportasi, namanya Andriawan Pratikto. Tentu beberapa teman-teman pembaca yang mengikuti perkembangan transportasi khususnya sudah tidak asing lagi dengan rekan saya yang satu ini. Beliau juga yang menyarankan atas jadwal perjalanan saya selama di Malaysia ini. Maka dari itu, saya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada beliau.

Masih dalam suasana warung pinggir jalan, yang sepi dan pekat dengan aroma pasir laut yang khas menemani waktu kami menunggu waktu keberangkatan kereta Shuttle ini. Saya memesan 2 Es teh kepada ibu pemilik warung. Selagi menghabiskan es teh saya mengambil beberapa sudut gambar yang mungkin bisa menggambarkan situasi sekitaran Stasiun Tumpat. Tak lama kemudian, si ibu pemilik warung ini membuka obrolan dengan kami berdua, mereka menanyakan asal kami berdua dan tujuan kami ke Tumpat dalam keperluan apa.

Senyum sang ibu pemilik warung mulai merekah ketika kami berdua menjelaskan tujuan dan keperluan kami di Tumpat. Ya, kami menjawab dengan senang hati bahwa kami tidak ada saudara maupun kerabat di Tumpat, kami hanya senang melakukan perjalanan. Kemudian ibu pemilik warung memanggil tetangga yang tinggalnya berada di dekat warungnya untuk ikut berkumpul bersama kami menjadi teman mengobrol. Banyak canda tawa yang tertuang pada siang hari itu tentang bertukar pandangan akan kebiasaan sehari-hari yang sedikit berbeda di negara mereka.

Sampai akhirnya kami berdua pamit kepada ibu pemiilik warung sambil membayar pesanan kami, kemudian salam hangat dan senyuman perpisahan menghantarkan perpisahan kami berdua dengan ibu pemilik warung dan beberapa tetangganya yang menemani kami ngobrol. semoga kita dapat bertemu kembali, bu.

Memasuki Stasiun Tumpat, kereta sudah tersedia di Jalur 1 dan kami langsung bergegas memasuki rangkaian kereta. Oiya, yang menjadi unik disini adalah dalam perjalanan ini tidak menggunakan sistem tempat duduk. Jadi kita bebas memilih untuk duduk dimana saja dan di kereta nomer berapa saja asalkan masih tersedia tempat duduk.

Rangkaian yang digunakan cukup mengejutkan saya, meskipun di tiket tertera kelas ekonomi, namun rupanya kereta Shuttle ini menggunakan rangkaian kereta Eksekutif dengan susunan tempat duduk persis dengan kereta Eksekutif di Indonesia di era 2014 kebawah lengkap dengan sandaran tangan tiap kursinya, meja lipat, bagasi kabin, pendingin ruangan yang sejuk, pintu kabin yang kedap suara.

Hanya saja yang membedakan adalah tempat duduk ini menghadapnya dibagi menjadi 2, yaitu saling bertolak belakang. Sebagian menghadap searah dengan laju kereta dan sebagiannya lagi menghadap searah dengan lajunya kereta. dengan sandaran tangan tiap kursinya, meja lipat, bagasi kabin, pendingin ruangan yang sejuk, pintu kabin yang kedap suara.

Kami menyusuri setiap kereta demi kereta untuk mencari tempat duduk yang paling nyaman, akhirnya kami berdua sepakat untuk tidak duduk di kursi penumpang, melainkan berdiri di bordes. Terdengar aneh? Memang.

Pukul 14.35 MYT kereta Shuttle diberangkatkan dari Stasiun Tumpat, lokomotif yang menarik merupakan lokomotif diesel hidrolik dengan suara traksi motor yang sangat khas. Kereta berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Tumpat. Dengan kecepatan rata-rata 80 Km/h, kami berdua menikmati pemandangan dengan pintu bordes yang terbuka.

Saya tidak menyarankan untuk melakukan kegiatan ini karena dengan alasan keselamatan tentunya, jadi selama perjalanan, perhatikan keselamatan diri juga. Tentu ini juga tidak saya sarankan untuk ditiru di Indonesia, karena disini ada larangan untuk membuka pintu kereta selama kereta berjalan.

Selama perjalanan dari Tumpat ke Wakaf Bahru, penumpang dalam kereta ini hanya kami berdua. Dengan 2 crew kereta yang menjalani kereta ini sepengelihatan saya, yaitu kondektur dan satu lagi sepertinya teknisi kereta. Serasa kereta ini hanya untuk kami berdua saja, hahaha!

Kereta mulai memperlambat lajunya, nampaknya perjalan kami akan segera berakhir. Kereta memasuki dengan perlahan Stasiun Wakaf Bharu. Terlihat beberapa penumpang sudah menunggu di peron, kami langsung mempersiapkan barang bawaan.

Kereta Shuttle telah tiba di Stasiun Wakaf Bharu, yang kemudian setelah penumpang naik kereta kembali melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Kuala Lipis. Stasiun Wakaf Bharu ini terlihat lebih besar daripada Stasiun Tumpat. Terdapat kantin, ruang tunggu yang lebih luas daripada Stasiun Tumpat. Kami berdua menunggu tumpangan taksi di ruang tunggu stasiun, dan lagi-lagi cuma kami berdua yang berada di ruang tunggu stasiun ini.

Taksi jemputan kami telah tiba, kami berdua melanjutkan perjalanan menuju bandara.

Perjalanan apa lagi yang akan saya lakukan? Ikuti cerita perjalanan saya untuk cerita selanjutnya.

Selamat Menikmati Perjalanan.

Bone Voyager

Tinggalkan komentar