KTM : Ekspress Rakyat Timuran
Perjalanan masih terhitung 14 jam lagi, tanpa listrik dengan keterbatasan sinyal telefon. Suasana kereta Sleeper mulai sepi, banyak tirai dari bed atas maupun bawah sudah banyak yang tertutup menandakan sudah memasuki waktu istirahat. Jam tangan saya menunjukkan pukul 22.00 MYT saya pun bergegas menata tempat tidur saya.
Mempersiapkan barang bawaan yang sekiranya akan dipergunakan untuk esok hari dan menyortir barang bawaan diurutkan mulai dari yang mempunyai mobilitas tinggi hingga baju dan celana ganti. Sedikit tips bagi anda yang hendak bepergian menggunakan tas punggung, selalu urutkan prioritas barang bawaan berdasarkan mobilitas barangnya agar mempersingkat waktu dan mempermudah anda dalam mengeluarkan barang bawaan.
Sebagai contoh, letakkan bekal makanan di posisi paling atas bagian tas punggung anda dan dibawahnya adalah pakaian yang tidak digunakan dalam waktu dekat. Ini berguna untuk mempersingkat waktu dan pergerakan menata ulang isi tas punggung anda. Ingat, dalam bepergian anda tetap harus waspada dengan lingkungan sekitar anda, jangan sampai dengan adanya aktifitas membongkar isi tas menjadi kesempatan bagi pencuri. Jika perlu mintalah teman anda untuk bergantian mengawasi barang bawaan jika memang diperlukan untuk membongkar isi tas di ruang publik. Kemudian usahakan membawa tas selempang kecil yang berisi passport atau kamera saku.
Karena selama di luar negeri, identitas kita yang berlaku hanyalah passport. Jadi jika passport selalu ada didekat jangkauan kita, sewaktu-waktu jika ada pemeriksaan identitas kita tidak perlu repot membuka tas punggung kita lagi.
Tempat tidur sudah tersusun rapih, kini saatnya mencuci muka dan tangan. Ini adalah kebiasaan pribadi saya setiap sebelum tidur. Toilet dalam kereta ini terletak di pintu masuk kereta di bagian kiri dan kanan. Fasilitas toilet yang disediakan terdapat 2 jenis, yaitu toilet duduk dan toilet jongkok.
Sayangnya, ketika memasuki toilet ini saya kehabisan air bersih yang mengalir di kereta ini. Untungnya saya selalu sedia tisu basah yang ada di dalam tas slempang saya. Kebersihan toilet ini menurut saya kurang terjaga. Saluran udara yang tidak berfungsi penuh membuat udara di dalam toilet agak pengap, hanya mengandalkan jendela kecil yang terbuka terdapat disebelah wastafel toilet kereta ini. Tisu kering yang tersedia pun kini sudah habis, padahal belum ada setengah dari perjalanan. Begitupun dengan toilet duduk yang letaknya di seberang dari toilet jongkok, hampir sama saja namun bedanya toilet ini sedikit lebih wangi daripada toilet sebelumnya.
Saya kembali ke dalam kabin penumpang, sebelumnya di bordes terdapat beberapa orang yang menelfon atau sekedar berdiri di samping pintu kereta, dengan ramah saya menyapa mereka dengan senyuman yang saling berbalas, sepertinya mereka kedinginan. Memang suhu kereta ini tergolong cukup dingin ketika malam, tak heran banyak penumpang yang sesekali berdiri di bordes hanya untuk menghangatkan badan.
Jadi sangat disarankan bagi anda yang tidak kuat dengan suhu dingin untuk membawa jaket tebal dan kaos kaki karena memang disediakan selimut dalam bed namun saya tidak yakin selimut ini mampu melindungi sepenuhnya dari dinginnya suhu ruangan disini karena selimut yang diberikan tipis dan seperti sprei kasur pada umumnya.
Saya mulai beristirahat di tempat tidur saya, sebelumnya saya minum obat pencegah masuk angin dan permen herbal yang mencegah sakit tenggorokan, ini adalah kebiasaan saya dalam setiap bepergian jauh gunanya untuk menjaga daya tahan tubuh jika berada di suhu ruangan yang rendah alias kedinginan.
Sinar matahari mulai menyelimuti saya, kereta ERT ini mulai menyusuri tepi laut, pemandangan yang saya saksikan dari tempat tidur saya adalahhutan dan beberapa tebing tinggi. Beruntung sekali saya dapat menikmati pemandangan indah ini karena cuaca pagi itu sangat cerah. Saya melihat jadwal pemberhentian kereta ERT ini yang terdekat sembari menyesuaikan waktu yang ada di jam tangan saya. Rupanya tak lama lagi kereta ERT akan memasuki Stasiun Gua Musang.
Menurut informasi yang saya peroleh sebelumnya, stasiun ini mempunyai view yang bagus, karena letak stasiun ini bersebelahan langsung dengan tebing batu besar ditambah dengan waktu pemberhentian kereta ini lumayan lama sekitar 7-10 menit di stasiun ini. Ini adalah kesempatan yang cocok bagi anda yang ingin mengabadikan momen berfoto bersama kereta ini dengan latar belakang tebing batu.
Kereta ERT berhenti di Stasiun Gua Musang, saya langsung bergegas menuju ke depan lokomotif untuk mengabadikan momen yang jarang saya jumpai sebelumnya. Terlihat ada petugas stasiun yang membawakan 2 porsi nasi goreng lengkap dengan minuman teh hangatnya ke depan lokomotif, rupanya makanan tersebut adalah menu sarapan bagi masinis yang menjalani kereta ERT ini.
Masinis kereta ERT menerima menu sarapan mereka selagi saya melewati jendela kabin lokomotifnya sambil menyapa memberikan senyuman untuknya.
“Saya boleh berfoto di depan?”
“Ya..ya..Silahkan saja” ujar si masinis selagi ia mulai membuka menu sarapannya.
Tak lama kemudian, kereta api siap unutuk diberangkatkan kembali dari Stasiun Gua Musang. Petugas kereta ERT memperingatkan saya agar segera naik kedalam kereta, langsung saya bergegas memasuki kereta dan berdiri sejenak di bordes untuk menikmati pemandangan. Petugas kebersihan kereta meminta ijin untuk membersihkan toilet yang letaknya ada didepan tempat saya berdiri, setelah itu ia menyapu dan mengepel lantai kereta api. sejak dari stasiun ini rupanya petugas kebersihan selalu membersihkan toilet dan bordes secara berkala setiap habis berhenti di stasiun.
Sudah puas menikmati pemandangan, kini saatnya saya menuju kereta Cafetaria untuk sarapan. Menu yang saya pilih adalah Nasi Goreng dengan minuman Es Milo, harganya RM 8 atau sekitar Rp.24.000 untuk makanan dan minuman. Makanan disajikan dengan piring dan masih hangat ketika disajikan oleh petugas kereta makan ini ke meja saya duduk.



Dan kembali, cafetaria sepertinya adalah tempat yang nyaman bagi saya untuk merangkai imajinasi saya dalam perjalanan ini. Banyak bayangan yang masih dalam angan. Seperti apakah nantinya stasiun tujuan akhir kereta ERT ini? Bagaimana rasanya berada di ujung utara Malaysia? Dan apakah kereta ini akan tiba tepat pada waktunya?
Bersambung







